Bandar Lampung, (Sumateranewstv.com) – Upaya pelestarian adat dan budaya Lampung terus dilakukan berbagai elemen masyarakat, salah satunya melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan adat yang melibatkan generasi muda sebagai calon penerus tokoh adat di masa mendatang. Dalam rangka mendukung langkah tersebut, Ketua Ikatan Keluarga Pakuon Agung (IKAPA) Sungkai Bunga Mayang, Syahbudin, S.H., yang diwakili oleh Sekretaris IKAPA Alek Jepra, S.E., M.M., bersama jajaran pengurus menghadiri undangan kegiatan Diklat Titi Puranti Bugawi Adat Bunga Mayang yang berlangsung di Aula SMTI Bandar Lampung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, 4–5 Juli 2026.
Kegiatan yang mengusung tema “Melalui Diklat Adat, Kita Mengenal Budaya sebagai Kearifan Lokal dan Jati Diri Masyarakat Lampung” tersebut diikuti sebanyak 40 peserta yang berasal dari Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Utara, serta berbagai tiuh dan komunitas adat di wilayah Sungkai Bunga Mayang.
Diklat ini menjadi wadah pembelajaran yang sangat penting bagi generasi muda dalam memahami tata cara pelaksanaan Begawi Adat secara utuh. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai budaya, norma adat, etika sosial, serta identitas masyarakat Lampung yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
Di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus modernisasi, keberadaan kegiatan semacam ini dinilai sangat strategis untuk menjaga eksistensi budaya daerah. Generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal adat secara simbolis, tetapi juga memahami filosofi dan makna yang terkandung dalam setiap prosesi adat yang dilaksanakan.
Mewakili Gubernur Lampung, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Tony Ferdinansyah, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada Masyarakat Adat Gunom Ragom yang selama ini dinilai konsisten menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur.
Menurut Tony, adat istiadat Lampung merupakan aset budaya yang sangat berharga dan harus dijaga keberlangsungannya oleh seluruh lapisan masyarakat. Ia menegaskan bahwa adat bukan hanya sebatas simbol berupa pakaian adat, gelar kehormatan, maupun prosesi seremonial semata.
"Adat merupakan pedoman hidup yang mengandung nilai-nilai luhur, etika, tata krama, dan filosofi kehidupan masyarakat Lampung. Oleh karena itu, pemahaman terhadap adat harus terus diwariskan kepada generasi muda agar identitas budaya daerah tetap terjaga," ujar Tony.
Ia juga menilai pelaksanaan diklat adat merupakan langkah nyata dalam memperkuat karakter generasi muda sekaligus menanamkan rasa bangga terhadap budaya daerah yang dimiliki masyarakat Lampung.
Sementara itu, Ketua Masyarakat Adat Gunom Ragom Marga Bunga Mayang Sungkai, Ansori DJausal, mengatakan bahwa pelaksanaan Diklat Titi Puranti Bugawi Adat merupakan bagian dari strategi besar untuk menyiapkan kader-kader adat yang mampu melanjutkan peran para penyimbang dan tokoh adat yang saat ini sebagian besar telah memasuki usia lanjut.
Menurut Ansori, kebutuhan regenerasi tokoh adat semakin mendesak seiring meningkatnya minat masyarakat untuk melaksanakan prosesi Begawi Adat dalam berbagai kegiatan adat dan keluarga. Di sisi lain, jumlah tokoh adat yang benar-benar memahami tata cara pelaksanaan Begawi sesuai pakem adat masih relatif terbatas.
"Tujuan utama kegiatan ini adalah melakukan regenerasi. Banyak tokoh adat kita yang sudah sepuh. Jika tidak dipersiapkan sejak sekarang, dikhawatirkan akan terjadi kekosongan. Kami ingin melahirkan kader-kader muda yang mampu melanjutkan peran para tokoh adat dalam setiap pelaksanaan Begawi," ujar Ansori.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan materi mengenai tata cara pelaksanaan Begawi Adat, etika dalam kehidupan bermasyarakat, tata urutan prosesi adat, hingga pemahaman mendalam tentang nilai-nilai Pi'il Pesenggiri yang menjadi falsafah hidup masyarakat Lampung.
Pi'il Pesenggiri sendiri merupakan prinsip hidup masyarakat Lampung yang mengajarkan tentang harga diri, kehormatan, gotong royong, keramahan, serta tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar dalam berbagai aktivitas adat maupun kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung.
Keikutsertaan peserta dari IKAPA Sungkai Bunga Mayang dalam diklat ini menunjukkan komitmen organisasi untuk terus berperan aktif dalam pelestarian budaya daerah. Selain mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, peserta IKAPA juga berkesempatan berdiskusi langsung dengan para tokoh adat mengenai berbagai persoalan dan tantangan pelestarian budaya di era modern.
Sekretaris IKAPA, Alek Jepra, menyampaikan bahwa partisipasi dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral organisasi untuk menjaga dan meneruskan warisan budaya leluhur kepada generasi berikutnya.
"Keikutsertaan peserta IKAPA merupakan bentuk komitmen untuk menjaga, melestarikan, dan meneruskan warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Kami berharap ilmu yang diperoleh selama diklat dapat diterapkan di lingkungan masyarakat serta menjadi bekal dalam mendukung setiap pelaksanaan adat sesuai pakem yang berlaku," kata Alek.
Menurutnya, keberhasilan pelestarian adat tidak hanya bergantung pada para tokoh adat, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda yang memiliki semangat untuk belajar dan meneruskan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Alek berharap para peserta yang mengikuti diklat dapat menjadi generasi penerus yang memahami, mengamalkan, serta menjaga keluhuran adat istiadat Marga Bunga Mayang. Dengan demikian, budaya Lampung akan tetap lestari dan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan perubahan zaman.
"Semoga peserta IKAPA mampu menjadi generasi penerus yang memahami, mengamalkan, dan menjaga keluhuran adat istiadat Marga Bunga Mayang demi keberlangsungan budaya Lampung untuk masa depan," pungkasnya.
Melalui kegiatan Diklat Titi Puranti Bugawi Adat Bunga Mayang ini, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya memahami adat secara teori, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya Lampung agar tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai kearifan lokal yang membanggakan. (*)
Pewarta: Pariyo Saputra
Redaksi Sumateranewstv







0Komentar