BANDAR LAMPUNG, (Sumateranewstv.com) – Malam yang penuh haru menyelimuti kediaman keluarga almarhum Aipda Septa Duipa di Jalan Mataram, Kelurahan Beringin Raya, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, Jumat (29/5/2026). Puluhan tenda putih berdiri menaungi ratusan pelayat yang hadir dalam doa bersama memperingati 40 hari wafatnya anggota Polri yang dikenal berdedikasi tinggi tersebut.
Di tengah suasana yang khidmat, hadir sosok yang begitu dekat di hati keluarga besar almarhum, yakni Irjen Pol Helmy Santika. Mantan Kapolda Lampung yang kini menjabat sebagai Perwira Tinggi (Pati) Itwasum Polri itu datang secara langsung untuk mengikuti rangkaian doa bersama dan memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu anggota terbaik yang pernah bertugas di wilayah hukum Polda Lampung.
Kehadiran Helmy Santika malam itu bukan sekadar kunjungan formal seorang pejabat tinggi kepolisian. Lebih dari itu, kehadirannya menjadi simbol kuat bahwa pengabdian seorang anggota Polri yang tulus tidak akan pernah dilupakan oleh institusi maupun para pemimpinnya.
Tanpa jarak dan tanpa sekat protokoler yang berlebihan, Irjen Helmy Santika duduk bersila di atas karpet bersama masyarakat, keluarga besar almarhum, para tokoh agama, tokoh masyarakat, serta rekan-rekan sesama anggota kepolisian. Didampingi Kombes Pol Brian Benteng, ia membaur dalam suasana doa dan zikir yang mengalun penuh kekhusyukan.
Pemandangan tersebut menjadi potret kepemimpinan yang humanis. Seorang jenderal bintang dua memilih berada di tengah masyarakat dan keluarga yang berduka, menunjukkan bahwa hubungan antara pimpinan dan anggota tidak semata-mata dibangun dalam struktur organisasi, tetapi juga melalui ikatan kemanusiaan yang kuat.
Di mata keluarga almarhum, kehadiran Helmy Santika memberikan makna yang sangat mendalam. Bukan hanya karena statusnya sebagai mantan Kapolda Lampung, melainkan karena perhatian dan kepeduliannya yang telah ditunjukkan sejak awal musibah yang menimpa Aipda Septa Duipa.
Perwakilan keluarga besar almarhum, Drs. H. Joharuddin, M.M., menyampaikan rasa terima kasih yang tulus atas kehadiran Irjen Pol Helmy Santika dalam acara doa 40 hari tersebut.
"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Irjen Pol Helmy Santika yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan bersama-sama mendoakan almarhum. Kehadiran beliau menjadi penghiburan dan kekuatan bagi keluarga kami," ujar Joharuddin dengan suara bergetar menahan haru.
Bagi keluarga, sosok Helmy Santika telah menjadi bagian dari perjalanan panjang perjuangan Aipda Septa sejak mengalami kecelakaan berat saat menjalankan tugas negara. Kepedulian yang diberikan tidak hanya hadir dalam bentuk perhatian institusional, tetapi juga dukungan moral yang begitu personal.
Ikatan emosional tersebut bermula dari peristiwa tragis yang terjadi pada Februari 2024 di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Saat itu, Aipda Septa Duipa sedang menjalankan tugas pemeriksaan kendaraan dalam rangka pencegahan peredaran narkotika yang masuk ke wilayah Provinsi Lampung.
Dalam pelaksanaan tugas yang penuh risiko tersebut, Septa mengalami kecelakaan beruntun yang mengakibatkan luka serius. Insiden itu mengubah kehidupan dirinya dan keluarga dalam sekejap. Namun di tengah situasi sulit tersebut, perhatian dari pimpinan kepolisian terus mengalir tanpa henti.
Sebagai Kapolda Lampung pada saat itu, Irjen Pol Helmy Santika memberikan perhatian khusus terhadap kondisi Aipda Septa. Ia tidak hanya memantau perkembangan kesehatan anggotanya melalui laporan resmi, tetapi juga datang langsung untuk memastikan bahwa Septa mendapatkan penanganan medis terbaik.
Dalam berbagai kesempatan, Helmy Santika menyampaikan penghormatan yang tinggi terhadap dedikasi dan pengorbanan yang telah diberikan oleh Aipda Septa Duipa. Bahkan, ia menyebut Septa sebagai seorang pahlawan yang sedang berjuang demi melindungi masyarakat dari ancaman narkoba.
"Beliau adalah pahlawan. Saat musibah itu terjadi, ia sedang menjalankan tugas mulia untuk melindungi masyarakat dari bahaya narkotika. Pengorbanan seperti ini harus dihormati dan dihargai," ujar Helmy saat itu.
Pernyataan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga. Di tengah perjuangan panjang melawan kondisi kesehatan yang terus menurun, dukungan dari pimpinan memberikan semangat dan harapan baru.
Tak hanya itu, perhatian juga datang dari keluarga besar Helmy Santika. Bersama sang istri, Ny. Lurie Helmy Santika, ia beberapa kali memberikan dukungan moral kepada keluarga Septa. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa rasa empati tidak berhenti pada hubungan kedinasan semata.
Selama masa perawatan yang panjang, keluarga Aipda Septa merasakan betul bagaimana perhatian tersebut hadir secara nyata. Dukungan moril, kunjungan langsung, serta doa yang terus dipanjatkan menjadi energi positif yang menguatkan mereka dalam menghadapi masa-masa sulit.
Perjalanan panjang Aipda Septa dalam menjalani pengobatan menjadi kisah perjuangan yang menyentuh banyak hati. Berbagai operasi dan tindakan medis harus dijalani demi mempertahankan hidup. Di balik itu semua, terdapat keluarga yang setia mendampingi serta rekan-rekan yang terus memberikan dukungan.
Salah satu sosok yang paling setia mendampingi perjuangan tersebut adalah sang istri, Mella Septa Duipa. Melalui berbagai unggahan di media sosial, Mella kerap membagikan cerita tentang perjuangan suaminya serta dukungan yang diterima dari banyak pihak.
Dalam salah satu unggahan yang kemudian menyentuh hati banyak orang, Mella mengenang bagaimana Irjen Pol Helmy Santika hadir memberikan semangat kepada suaminya yang tengah berjuang melawan kondisi kritis.
"Ami suka bercanda denganmu agar kamu semangat sembuh. Beruntung kamu seorang kroco mumet dikunjungi Jenderal," tulis Mella dalam unggahannya.
Kalimat sederhana tersebut menggambarkan betapa besar arti perhatian yang diberikan oleh seorang pimpinan kepada anggotanya. Di saat seseorang tengah berjuang antara hidup dan mati, kehadiran orang-orang yang peduli mampu menjadi sumber kekuatan yang luar biasa.
Bagi Mella, dukungan yang diberikan oleh Helmy Santika membuktikan bahwa keluarga besar Polri bukan hanya sebuah slogan. Nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian benar-benar dirasakan dalam kehidupan nyata.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, takdir berkata lain. Setelah berjuang dalam waktu yang panjang, Aipda Septa Duipa akhirnya mengembuskan napas terakhir pada 19 April 2026. Kabar duka tersebut menyelimuti keluarga besar Polri, khususnya di Lampung.
Kepergian Septa meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan rekan kerja. Namun di balik kesedihan itu, tersimpan kebanggaan atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan selama bertugas sebagai anggota kepolisian.
Nama Aipda Septa Duipa kini dikenang sebagai sosok yang mengutamakan tugas di atas kepentingan pribadi. Ia menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh integritas, bahkan ketika harus menghadapi risiko yang mengancam keselamatan dirinya sendiri.
Semangat pengabdian itulah yang terus dijaga oleh keluarga. Mereka berharap nilai-nilai yang diwariskan Septa dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya, termasuk bagi anak-anaknya yang kini tumbuh dengan kenangan tentang sosok ayah yang penuh dedikasi.
Mella Septa Duipa menyampaikan bahwa keluarga akan terus menjaga nama baik almarhum dan meneruskan nilai-nilai kehidupan yang selama ini diajarkan.
"Namamu akan selalu abadi terpatri dalam kesetiaan," tulisnya dalam ungkapan yang penuh makna.
Ungkapan tersebut mencerminkan rasa cinta, penghormatan, dan kebanggaan seorang istri kepada suaminya yang telah mengabdikan hidup demi tugas negara. Bagi keluarga, Septa bukan hanya kepala keluarga, tetapi juga teladan yang akan selalu dikenang.
Peringatan 40 hari wafatnya Aipda Septa menjadi momentum refleksi bagi banyak pihak. Tidak hanya mengenang sosok almarhum, tetapi juga mengingat kembali pentingnya menghargai setiap bentuk pengabdian yang diberikan oleh para anggota kepolisian di lapangan.
Setiap hari, ribuan anggota Polri bertugas menjaga keamanan, menegakkan hukum, dan melindungi masyarakat dari berbagai ancaman. Dalam menjalankan tugas tersebut, mereka sering kali menghadapi risiko yang tidak kecil.
Kisah Aipda Septa Duipa menjadi salah satu contoh nyata bagaimana seorang anggota kepolisian menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab hingga akhirnya mengalami musibah saat bertugas. Pengorbanan tersebut menjadi pengingat bahwa keamanan yang dirasakan masyarakat sering kali lahir dari dedikasi dan perjuangan yang tidak terlihat.
Kehadiran Irjen Pol Helmy Santika dalam doa 40 hari itu sekaligus mengirimkan pesan moral yang kuat. Bahwa institusi tidak melupakan mereka yang telah memberikan pengabdian terbaiknya. Bahwa keluarga yang ditinggalkan tidak berjalan sendiri menghadapi duka.
Sikap humanis yang ditunjukkan Helmy Santika juga menjadi teladan tentang pentingnya kepemimpinan yang dekat dengan anggota. Kepemimpinan yang tidak hanya hadir dalam rapat dan kebijakan, tetapi juga hadir di saat anggota dan keluarganya membutuhkan dukungan.
Di tengah arus kehidupan yang terus berjalan, kenangan tentang Aipda Septa Duipa akan tetap hidup dalam hati keluarga, rekan-rekan kerja, dan masyarakat yang mengenalnya. Jejak pengabdiannya menjadi warisan moral yang akan terus dikenang sepanjang waktu.
Malam itu, doa-doa dipanjatkan dengan penuh keikhlasan. Ayat-ayat suci dilantunkan, memohon agar almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT serta seluruh amal ibadah dan pengabdiannya diterima sebagai kebaikan yang bernilai pahala.
Bagi keluarga, kehadiran Irjen Pol Helmy Santika menjadi bukti bahwa ketulusan tidak pernah berhenti pada sebuah jabatan. Kepedulian yang ditunjukkan sejak awal musibah hingga peringatan 40 hari wafatnya Septa menjadi jejak empati yang akan selalu dikenang.
Pada akhirnya, kisah tentang Aipda Septa Duipa bukan hanya tentang seorang anggota Polri yang gugur setelah berjuang melawan dampak kecelakaan saat bertugas. Kisah ini juga tentang kesetiaan, solidaritas, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap pengabdian.
Dan melalui kehadiran Helmy Santika malam itu, pesan tersebut kembali ditegaskan kepada semua yang hadir: bahwa pengabdian yang tulus tidak akan pernah dilupakan, dan bahwa keluarga yang ditinggalkan akan selalu menjadi bagian dari keluarga besar Polri. (*)
Redaksi Sumateranewstv




0Komentar