Buka Bersama dan Silaturahmi Lembaga Adat Saibatin Makhga Way Lima Hasilkan Kepengurusan Baru

PESAWARAN, (Sumateranewstv.com) – Suasana kebersamaan, kekeluargaan, dan semangat pelestarian adat begitu terasa dalam kegiatan Buka Bersama dan Silaturahmi Lembaga Adat Saibatin Makhga Way Lima yang digelar pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Koperasi Sempukhna Jaya, Desa Tempel Rejo, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran tersebut menjadi momentum penting bagi para tokoh adat untuk mempererat hubungan sekaligus membahas masa depan lembaga adat.

Acara yang dimulai sejak pukul 16.00 WIB hingga 21.50 WIB itu dihadiri sekitar 60 orang punyimbang dari berbagai tingkatan adat, mulai dari Pengikhan, Suntan, Dalom, Saibatin, hingga Khaja. Kehadiran para tokoh adat dari berbagai wilayah menunjukkan kuatnya komitmen untuk menjaga nilai-nilai tradisi serta memperkuat kelembagaan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Selain para tokoh adat, kegiatan tersebut juga dihadiri unsur pemerintah dan aparat keamanan. Camat Kedondong hadir mewakili Bupati Pesawaran, sementara Kapolsek Kedondong turut hadir mewakili Kapolres Pesawaran. Kehadiran mereka menjadi bukti dukungan pemerintah dan aparat terhadap keberadaan lembaga adat sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Momentum Silaturahmi Para Punyimbang

Kegiatan buka bersama ini bukan sekadar agenda rutin dalam bulan suci Ramadhan, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi yang mempertemukan para punyimbang dari berbagai wilayah adat yang tergabung dalam Makhga Way Lima.

Para punyimbang yang hadir tidak hanya berasal dari wilayah sekitar Kecamatan Kedondong dan Way Lima, tetapi juga datang dari wilayah Suka Makhga Tigegok di Pekon Suka Negakha Bolok. Kehadiran mereka semakin menambah semarak suasana sekaligus menegaskan bahwa hubungan antarwilayah adat dalam Makhga Way Lima tetap terjalin erat.

Sejak sore hari, para tamu mulai berdatangan ke lokasi acara. Mereka saling menyapa dengan penuh kehangatan, menunjukkan kedekatan yang telah terjalin sejak lama. Bagi para tokoh adat, pertemuan semacam ini memiliki makna yang sangat penting karena menjadi ruang untuk berdiskusi, bertukar pandangan, dan menyamakan persepsi mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan adat.

Dalam tradisi masyarakat adat Lampung, silaturahmi antar punyimbang merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga keharmonisan sosial. Melalui pertemuan seperti ini, berbagai persoalan dapat diselesaikan melalui musyawarah dan mufakat.

Buka Puasa Bersama yang Penuh Kebersamaan

Menjelang waktu berbuka puasa, suasana Gedung Koperasi Sempukhna Jaya semakin ramai. Para peserta duduk bersama sambil menunggu waktu berbuka, menikmati hidangan yang telah disiapkan panitia.

Ketika adzan magrib berkumandang, seluruh peserta secara bersama-sama membatalkan puasa. Suasana hangat dan penuh kebersamaan begitu terasa saat para tokoh adat menikmati hidangan buka puasa bersama.

Setelah berbuka, kegiatan dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah shalat magrib secara berjamaah. Ibadah ini menjadi bagian penting dalam rangkaian acara, sekaligus menjadi wujud rasa syukur atas kesempatan untuk berkumpul dan bersilaturahmi.

Ramadhan sendiri memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat, tidak hanya sebagai bulan ibadah tetapi juga sebagai momentum mempererat hubungan sosial. Oleh karena itu, kegiatan buka bersama seperti ini sering dimanfaatkan sebagai sarana memperkuat kebersamaan.

Diskusi Penyempurnaan Lembaga Adat

Usai melaksanakan shalat magrib, acara dilanjutkan dengan agenda utama yaitu diskusi terkait penyempurnaan struktur Lembaga Adat Saibatin Makhga Way Lima. Diskusi berlangsung dengan suasana penuh kekeluargaan namun tetap serius.

Para punyimbang menyampaikan berbagai pandangan dan masukan terkait keberadaan lembaga adat, terutama mengenai pentingnya memperkuat struktur organisasi agar mampu menjalankan fungsi secara lebih efektif.

Dalam forum tersebut dibahas secara mendalam mengenai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) lembaga adat. Dokumen tersebut dinilai sangat penting karena menjadi dasar hukum dan pedoman dalam menjalankan organisasi.

Beberapa tokoh adat menekankan bahwa keberadaan AD/ART yang jelas akan membantu lembaga adat dalam menjalankan berbagai program, termasuk dalam menjaga kelestarian adat istiadat serta menyelesaikan persoalan yang muncul di tengah masyarakat.

Diskusi berlangsung secara terbuka. Setiap peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, sehingga keputusan yang dihasilkan benar-benar merupakan hasil musyawarah bersama.

Pembentukan Presidium Perwakilan Persekutuan

Salah satu keputusan penting yang dihasilkan dalam forum tersebut adalah pembentukan presidium lembaga adat. Presidium ini terdiri dari lima orang yang mewakili masing-masing persekutuan dari kebandakhan yang ada di Makhga Way Lima.

Pembentukan presidium tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa setiap wilayah persekutuan memiliki perwakilan dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, kepentingan seluruh wilayah dapat terakomodasi secara adil.

Para tokoh adat menilai bahwa sistem presidium merupakan langkah strategis untuk memperkuat koordinasi antarwilayah adat. Melalui struktur ini, komunikasi antara berbagai persekutuan diharapkan dapat berjalan lebih efektif.

Selain itu, presidium juga memiliki peran penting dalam merumuskan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan pelestarian adat serta pengembangan masyarakat adat.

Keputusan pembentukan presidium tersebut disambut baik oleh seluruh peserta. Mereka berharap langkah ini dapat menjadi awal baru bagi penguatan kelembagaan adat di wilayah Makhga Way Lima.

Pemilihan Ketua Harian Lembaga Adat

Setelah pembentukan presidium, forum kemudian melanjutkan agenda dengan pemilihan ketua harian lembaga adat beserta jajarannya.

Pemilihan dilakukan secara musyawarah mufakat, sesuai dengan tradisi masyarakat adat Lampung yang selalu mengutamakan kebersamaan dalam mengambil keputusan.

Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, para punyimbang sepakat menunjuk Sdr. Dedy Satria yang memiliki adok Khaja Mangku Negakha sebagai Ketua Harian Lembaga Adat Saibatin Makhga Way Lima.

Pemilihan tersebut didasarkan pada berbagai pertimbangan, termasuk pengalaman, dedikasi, serta komitmen beliau dalam menjaga dan melestarikan adat istiadat.

Para tokoh adat berharap kepemimpinan baru ini mampu membawa lembaga adat ke arah yang lebih baik, serta mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat adat di era modern.

Peran Ketua Pelaksana dalam Kesuksesan Acara

Selain pemilihan ketua harian, forum juga memberikan apresiasi kepada Sdr. Murni Achmadi yang beradok Siakh Makhga sebagai ketua pelaksana kegiatan.

Di bawah koordinasi beliau, acara buka bersama dan silaturahmi ini dapat berjalan dengan lancar hingga selesai. Berbagai persiapan telah dilakukan dengan baik sehingga kegiatan berlangsung tertib dan penuh kekhidmatan.

Para peserta memberikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan tersebut.

Keberhasilan acara ini menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih sangat kuat dalam masyarakat adat. Setiap pihak berkontribusi sesuai dengan peran masing-masing demi tercapainya tujuan bersama.

Dukungan Pemerintah dan Aparat Keamanan

Kehadiran Camat Kedondong yang mewakili Bupati Pesawaran serta Kapolsek Kedondong yang mewakili Kapolres Pesawaran menjadi simbol dukungan pemerintah dan aparat keamanan terhadap keberadaan lembaga adat.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan pemerintah menyampaikan bahwa lembaga adat memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial di masyarakat.

Lembaga adat dinilai mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan di tingkat lokal, termasuk dalam menjaga stabilitas dan ketertiban masyarakat.

Selain itu, keberadaan lembaga adat juga sangat penting dalam melestarikan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Lampung.

Sinergi antara lembaga adat, pemerintah daerah, dan aparat keamanan diharapkan dapat terus diperkuat demi menciptakan kondisi masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera.

Pentingnya Pelestarian Adat Saibatin

Adat Saibatin merupakan salah satu sistem adat yang berkembang dalam masyarakat Lampung, khususnya di wilayah pesisir. Sistem ini menekankan pada struktur kepemimpinan adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam kehidupan masyarakat, adat Saibatin tidak hanya berfungsi sebagai simbol budaya, tetapi juga menjadi pedoman dalam berbagai aspek kehidupan sosial.

Melalui lembaga adat, berbagai nilai luhur seperti gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sesama terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Oleh karena itu, penguatan kelembagaan adat menjadi sangat penting agar nilai-nilai tersebut tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Harapan bagi Kepengurusan Baru

Dengan terbentuknya kepengurusan baru, para punyimbang berharap Lembaga Adat Saibatin Makhga Way Lima dapat semakin aktif menjalankan berbagai program yang bermanfaat bagi masyarakat.

Beberapa program yang diharapkan dapat dilaksanakan antara lain kegiatan pelestarian budaya, pembinaan generasi muda, serta penguatan peran adat dalam menyelesaikan persoalan sosial.

Selain itu, lembaga adat juga diharapkan mampu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat.

Kerja sama tersebut dinilai penting untuk memastikan bahwa adat istiadat tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.

Penutup dengan Doa Bersama

Setelah melalui rangkaian kegiatan yang panjang, acara akhirnya ditutup dengan doa bersama. Doa dipanjatkan sebagai bentuk rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan dengan lancar.

Para peserta juga memohon agar kepengurusan baru yang telah terbentuk dapat menjalankan amanah dengan baik serta mampu membawa lembaga adat menuju kemajuan.

Suasana haru dan penuh harapan terasa saat doa dipanjatkan. Para punyimbang berharap kebersamaan yang terjalin dalam kegiatan ini dapat terus dipertahankan di masa mendatang.

Kegiatan Buka Bersama dan Silaturahmi Lembaga Adat Saibatin Makhga Way Lima ini tidak hanya menjadi ajang pertemuan tahunan, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam penguatan kelembagaan adat di Kabupaten Pesawaran.

Dengan semangat kebersamaan yang kuat, masyarakat adat Makhga Way Lima optimistis mampu menjaga warisan budaya sekaligus berkontribusi dalam pembangunan daerah. (DPC LSM TRINUSA PESAWARAN)

Redaksi Sumateranewstv