Arus Mudik 2026, Polda Lampung-Banten Sinkronkan Data Merak–Bakauheni

Press Release Nomor: 62/ II/ HUM.6.1.1./ 2026/ Bidhumas
Kamis, 26 Februari 2026

LAMPUNG, (Sumateranewstv.com) – Arus mudik Lebaran 2026 diprediksi kembali memberi tekanan signifikan pada jalur penyeberangan Merak–Bakauheni. Mengantisipasi lonjakan pergerakan penumpang dan kendaraan dari Pulau Jawa menuju Sumatera maupun sebaliknya, Polda Lampung bersama Polda Banten menyatukan skema pengamanan dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Operasi Ketupat 2026 yang digelar di Aula Gawe Kuta Baluwarti, Rabu (25/2/2026).

Rapat koordinasi tersebut bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Fokus utamanya jelas dan terukur, yakni memetakan potensi kemacetan di titik-titik rawan, menyamakan serta menyinkronkan data pergerakan kapal dan kendaraan secara real time, serta memastikan tidak terjadi lagi penumpukan ekstrem seperti yang sempat terjadi pada tahun-tahun sebelumnya di Pelabuhan Merak maupun Pelabuhan Bakauheni.

Arus mudik setiap tahunnya menjadi fenomena sosial terbesar di Indonesia. Jutaan masyarakat bergerak secara bersamaan dalam waktu relatif singkat. Jalur penyeberangan Merak–Bakauheni menjadi simpul vital karena merupakan penghubung utama antara Pulau Jawa dan Sumatera. Oleh sebab itu, pengelolaan arus kendaraan dan penumpang di lintasan ini memerlukan koordinasi lintas provinsi yang solid, terstruktur, dan berbasis data akurat.

Sinkronisasi Data Jadi Kunci

Kapolda Lampung, Irjen Pol Helfi Assegaf, menegaskan bahwa kunci pengendalian arus mudik 2026 terletak pada akurasi serta kecepatan pembaruan data antarposko. Menurutnya, tanpa data yang valid dan terintegrasi, pengambilan keputusan di lapangan akan terlambat dan berpotensi memicu kepadatan panjang.

“Kita harus terus memperbarui data setiap kejadian menonjol di Pos Pengamanan, Pos Pelayanan, dan Pos Terpadu. Semua tercatat rapi dan bisa diakses untuk pengambilan keputusan cepat,” tegas Helfi dalam arahannya.

Ia juga menekankan bahwa komunikasi lintas provinsi tidak boleh terputus, terutama antara petugas di Merak dan Bakauheni. Kedua pelabuhan tersebut ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Apabila terjadi ketidaksinkronan data kapal yang berangkat dan sandar, maka potensi antrean panjang tak terhindarkan.

“Koordinasi antara Lampung dan Banten harus real time. Data kapal yang keluar dan masuk harus sinkron, supaya tidak terjadi penumpukan akibat miskomunikasi,” ujarnya.

Menurut Helfi, pengawasan berbasis teknologi menjadi prioritas utama tahun ini. Pemanfaatan CCTV di kawasan Pelabuhan Bakauheni akan diintegrasikan dengan Command Center guna memudahkan monitoring situasi secara menyeluruh. Sistem pengendalian manual dinilai sudah tidak relevan menghadapi lonjakan arus mudik berskala nasional.

“Manfaatkan CCTV di kawasan Pelabuhan Bakauheni dan integrasikan dengan Command Center. Pengendalian tidak bisa lagi manual. Semua harus berbasis sistem dan data,” katanya menegaskan.

Pelabuhan Merak dan Bakauheni Titik Krusial

Lintasan Merak–Bakauheni merupakan jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia saat periode mudik Lebaran. Ribuan kendaraan pribadi, bus antarkota, truk logistik, hingga pejalan kaki memadati area pelabuhan dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.

Dalam rapat koordinasi tersebut, dipaparkan bahwa pemerintah bersama operator pelabuhan telah menyiapkan 76 kapal untuk melayani lintasan Jawa–Sumatera. Penambahan buffer zone tambahan juga disiapkan guna mengurai antrean kendaraan sebelum masuk area dermaga.

Rekayasa lalu lintas akan diterapkan secara berlapis berdasarkan kategori situasi, mulai dari kondisi hijau (lancar), kuning (padat merayap), hingga merah (padat total). Setiap level memiliki skema penanganan berbeda, termasuk pemberlakuan delay system untuk membatasi kendaraan masuk pelabuhan apabila kapasitas parkir kapal telah penuh.

Upaya ini dilakukan agar pengalaman kepadatan ekstrem seperti beberapa tahun lalu tidak terulang. Penumpukan kendaraan berjam-jam bahkan hingga belasan jam menjadi catatan penting yang harus diantisipasi melalui perencanaan matang dan koordinasi intensif.

Evaluasi 2025 Jadi Bahan Koreksi

Karo Ops Polda Lampung, Kombes Pol Fadly Munzir Ismail, mengakui bahwa evaluasi arus mudik 2025 menjadi pijakan utama dalam penyusunan pola pengamanan 2026. Sejumlah permasalahan teknis tahun lalu menjadi bahan koreksi serius.

“Permasalahan tahun lalu menjadi bahan koreksi. Rest area dipenuhi truk, lonjakan pejalan kaki di pelabuhan, hingga penyerobotan antrean sempat memicu kepadatan. Tahun ini kita siapkan pola pengamanan lebih ketat,” ujar Fadly.

Ia menambahkan, patroli intensif akan ditingkatkan, termasuk pengamanan rumah kosong yang ditinggalkan pemudik. Selain itu, pengawasan terhadap kendaraan logistik akan diperketat agar tidak memadati rest area yang seharusnya diperuntukkan bagi kendaraan pribadi.

Fadly juga menyoroti potensi kelelahan pemudik sebagai faktor risiko keselamatan. Perjalanan panjang dari berbagai daerah di Pulau Jawa menuju Sumatera dapat memicu gangguan kesehatan apabila tidak diantisipasi dengan baik.

“Kami siapkan pos kesehatan dan layanan cepat untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat perjalanan panjang. Keselamatan pemudik adalah prioritas,” katanya.

Cuaca Jadi Variabel Penting

Selain faktor teknis dan manajerial, kondisi cuaca juga menjadi variabel kritis dalam perencanaan Operasi Ketupat 2026. Berdasarkan prakiraan dari BMKG Wilayah II Banten, gelombang di lintasan Merak–Bakauheni diprediksi relatif rendah. Namun potensi hujan sedang hingga lebat tetap harus diantisipasi secara dinamis.

Cuaca buruk dapat memengaruhi jadwal keberangkatan kapal dan berpotensi memperlambat proses bongkar muat kendaraan. Oleh sebab itu, koordinasi antara kepolisian, otoritas pelabuhan, dan pihak BMKG dilakukan secara intensif untuk memastikan setiap perubahan kondisi cuaca dapat segera ditindaklanjuti.

Informasi prakiraan cuaca akan disebarluaskan secara berkala kepada masyarakat melalui media sosial resmi, papan informasi elektronik, serta siaran radio guna membantu pemudik merencanakan perjalanan dengan lebih aman.

Operasi Ketupat 2026 Selama 13 Hari

Operasi Ketupat 2026 dijadwalkan berlangsung selama 13 hari pada pertengahan Maret. Ribuan personel gabungan TNI-Polri serta instansi terkait akan diterjunkan di berbagai titik strategis.

Titik pengamanan tersebar di pelabuhan, jalur tol dan arteri, rest area, pusat perbelanjaan, terminal, stasiun, hingga kawasan wisata. Setiap pos akan dilengkapi sarana komunikasi modern guna memastikan laporan dapat diterima secara cepat dan akurat.

Bagi Polda Lampung, target operasi tidak semata-mata kelancaran arus lalu lintas. Lebih dari itu, pelayanan humanis menjadi wajah utama Operasi Ketupat 2026. Pendekatan persuasif dan ramah kepada masyarakat ditekankan dalam setiap interaksi petugas di lapangan.

“Utamakan keselamatan personel dan layani masyarakat dengan pendekatan humanis. Mudik adalah momen sakral, negara harus hadir memberi rasa aman,” pungkas Irjen Pol Helfi Assegaf.

Sinergi Lintas Provinsi untuk Kepentingan Nasional

Kerja sama antara Polda Lampung dan Polda Banten mencerminkan pentingnya sinergi lintas wilayah dalam menghadapi mobilitas masyarakat berskala nasional. Arus mudik bukan hanya persoalan daerah, melainkan kepentingan nasional yang menyangkut keselamatan jutaan warga.

Dengan sinkronisasi data yang lebih baik, pemanfaatan teknologi pengawasan, rekayasa lalu lintas berlapis, serta pelayanan humanis, diharapkan arus mudik 2026 dapat berjalan lebih lancar dan terkendali dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Masyarakat pun diimbau untuk mematuhi arahan petugas, mempersiapkan perjalanan dengan matang, memastikan kondisi kendaraan prima, serta menjaga kesehatan selama perjalanan. Kesadaran kolektif antara aparat dan masyarakat menjadi fondasi utama terciptanya mudik aman dan nyaman.

Melalui persiapan matang dan koordinasi intensif lintas sektoral, Polda Lampung optimistis bahwa jalur penyeberangan Merak–Bakauheni dapat dikelola secara optimal. Lebaran bukan hanya tentang perjalanan pulang, tetapi juga tentang keselamatan, kebersamaan, dan kehadiran negara dalam melayani warganya. 

Bidhumas Polda Lampung / Sumateranewstv