LAMPUNG UTARA – Sumateranewstv. Com — Jagat maya kembali digegerkan oleh beredarnya sebuah video yang menampilkan Kepala Sekolah SD Negeri 03 Sindang Sari, Kecamatan Kotabumi Kota, Kabupaten Lampung Utara, yang menyampaikan keluhan keras terkait kondisi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Video tersebut dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial dan memantik reaksi publik, khususnya para orang tua siswa dan pemerhati dunia pendidikan.
Dalam video yang beredar, Kepala Sekolah SDN 03 Sindang Sari, Ida Yulia Mega, secara tegas menyatakan bahwa makanan yang diterima pihak sekolah dalam program MBG diduga sudah dalam kondisi tidak layak konsumsi. Bahkan, ia menyebutkan bahwa makanan tersebut telah menyebabkan sejumlah siswanya mengalami gejala keracunan.
Menu MBG Diduga Tidak Layak Konsumsi
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, menu MBG yang diterima oleh SDN 03 Sindang Sari pada Senin (12/01/2026) terdiri dari bacem tempe, tumisan sayur, serta buah sebagai pelengkap. Namun, alih-alih menjadi asupan bergizi bagi siswa, makanan tersebut justru diduga dalam kondisi tidak segar.
“Buahnya sudah busuk, aromanya tidak sedap. Tempe bacem dan sayurnya juga tidak seperti makanan yang baru dimasak,” ujar salah satu guru yang enggan disebutkan namanya.
Kondisi makanan tersebut kemudian memicu kekhawatiran pihak sekolah, terlebih setelah sejumlah siswa mengeluhkan sakit perut usai menyantap hidangan MBG.
Viral di Media Sosial, Publik Bereaksi
Video pernyataan Kepala Sekolah Ida Yulia Mega dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial, mulai dari WhatsApp, Facebook, hingga TikTok. Banyak warganet mengecam lemahnya pengawasan terhadap program MBG yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi dan kesehatan anak-anak sekolah.
Tak sedikit pula orang tua siswa yang menyampaikan kekhawatiran dan menuntut adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut, khususnya di wilayah Lampung Utara.
Pernyataan Kepala Sekolah: Bukan Kejadian Pertama
Saat ditemui langsung oleh awak media di sekolah yang dipimpinnya, Kepala SDN 03 Sindang Sari, Ida Yulia Mega, menegaskan bahwa kejadian ini bukanlah yang pertama kali terjadi.
“Ini bukan kali pertama yang kami terima. Sudah beberapa kali kami mendapatkan makanan yang kualitasnya kurang baik. Saya juga sudah beberapa kali melakukan pengaduan, tetapi tidak ada respon dari pihak SPPG,” ungkap Ida.
Menurut Ida, pihak sekolah selama ini berupaya kooperatif dan mengedepankan kepentingan siswa. Namun, berulangnya kejadian serupa membuat pihaknya merasa perlu bersuara lebih keras demi keselamatan anak didiknya.
Pengaduan Disebut Tak Pernah Ditindaklanjuti
Ida menjelaskan bahwa dirinya telah menyampaikan keluhan secara langsung maupun tidak langsung kepada pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan MBG. Namun, pengaduan tersebut dinilai tidak mendapat respons serius.
“Kami sudah menyampaikan, tapi tidak ada tindak lanjut. Ini yang membuat kami sangat kecewa,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sekolah bukan bermaksud menolak program MBG, melainkan berharap program tersebut dijalankan secara profesional dan bertanggung jawab.
Harapan Agar Tidak Terulang di Sekolah Lain
Kepala sekolah berharap pihak SPPG dapat segera melakukan pembenahan internal, meningkatkan kualitas pengawasan, serta memastikan seluruh makanan yang disalurkan benar-benar layak konsumsi.
“Saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi, bukan hanya di sekolah kami, tetapi juga di sekolah lain,” tegasnya.
Keterangan Kepala SPPG: Mengaku Bertanggung Jawab
Sementara itu, Kepala SPPG Dapur Hajjah Lis, Abib Saputra, memberikan klarifikasi terkait kejadian tersebut. Ia mengakui adanya kelalaian dalam proses penyediaan makanan dan menyatakan pihaknya telah mengambil langkah tanggung jawab.
“Kami sudah meminta maaf kepada pihak sekolah dan bertanggung jawab dengan memberikan susu serta obat-obatan ringan kepada siswa yang mengalami keluhan,” ujar Abib.
Abib juga menyebutkan bahwa pihaknya akan segera melakukan evaluasi terhadap para pekerja yang terlibat dalam proses pengolahan dan distribusi makanan MBG.
Evaluasi Internal dan Pengawasan Diperketat
Menurut Abib, SPPG akan memperketat standar operasional prosedur (SOP), mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah.
“Kami tidak ingin kejadian ini terulang. Evaluasi akan kami lakukan secara menyeluruh,” tambahnya.
Data Siswa Mengalami Gejala Keracunan
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah siswa SDN 03 Sindang Sari yang mengalami gejala keracunan akibat mengonsumsi makanan MBG tercatat sebanyak 11 orang.
Gejala yang dialami para siswa tersebut bervariasi, mulai dari sakit perut, diare, hingga muntah-muntah. Beruntung, tidak ada korban yang harus dirawat intensif di rumah sakit.
Pihak sekolah langsung mengambil langkah cepat dengan menghentikan konsumsi makanan tersebut dan memberikan pertolongan awal kepada siswa yang terdampak.
Peran Orang Tua dan Pihak Sekolah
Orang tua siswa menyampaikan apresiasi terhadap langkah cepat pihak sekolah dalam menangani situasi tersebut. Namun, mereka juga mendesak agar ada pengawasan lebih ketat dari pemerintah daerah.
“Kami titipkan anak-anak kami di sekolah. Program ini bagus, tapi jangan sampai malah membahayakan,” ujar salah satu wali murid.
Program Makan Bergizi Gratis dan Tantangan di Lapangan
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan status gizi anak-anak sekolah serta mendukung tumbuh kembang generasi muda Indonesia.
Namun, pelaksanaan program ini di lapangan kerap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya, lemahnya pengawasan, hingga masalah distribusi dan kualitas makanan.
Kasus yang terjadi di SDN 03 Sindang Sari menjadi contoh nyata bahwa pengawasan yang lemah dapat berdampak langsung pada kesehatan siswa.
Peran Pemerintah Kecamatan Dipertanyakan
Hingga berita ini diturunkan, Camat Kotabumi Kota, Sinar Barkah, belum memberikan tanggapan terkait kejadian tersebut. Upaya konfirmasi melalui sambungan telepon dan pesan singkat aplikasi hijau tidak mendapatkan respons.
Ketidakhadiran pernyataan dari pihak kecamatan menimbulkan pertanyaan di kalangan publik mengenai sejauh mana pengawasan pemerintah wilayah terhadap pelaksanaan program MBG.
Desakan Evaluasi Menyeluruh
Sejumlah pihak mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di Lampung Utara, termasuk audit terhadap dapur penyedia, distribusi makanan, serta mekanisme pengaduan.
Transparansi dan akuntabilitas dinilai menjadi kunci agar program yang baik ini tidak menimbulkan dampak negatif.
Penutup
Kasus dugaan makanan MBG busuk di SDN 03 Sindang Sari menjadi pengingat penting bahwa program pemerintah, sebaik apa pun tujuannya, harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Keselamatan dan kesehatan siswa harus menjadi prioritas utama.
Sumateranewstv akan terus mengikuti perkembangan kasus ini dan menyajikan informasi lanjutan secara berimbang dan profesional sesuai kode etik jurnalistik.
(Tim)

