LAMPUNG UTARA, (Sumateranewstv.com) – Puluhan warga Tulung Mili, Kelurahan Kotabumi Ilir, Kecamatan Kotabumi Kota, Kabupaten Lampung Utara, bergotong royong memperbaiki ruas jalan yang mengalami kerusakan di Jembatan Tulung Mili, Kamis (10/9/2026).
Perbaikan dilakukan secara swadaya setelah warga mengaku kondisi jalan tersebut tak kunjung mendapatkan penanganan dari pemerintah. Dengan mengandalkan sumbangan masyarakat yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, warga berinisiatif melakukan pengecoran dan penambalan pada sejumlah bagian jalan yang mengalami kerusakan.
Sejak pagi, warga terlihat mendatangi lokasi dengan membawa berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan. Sejumlah warga membawa cangkul, arit, palu serta perlengkapan bangunan lainnya. Mereka kemudian bekerja bersama memperbaiki bagian jalan yang dinilai sudah membahayakan pengguna kendaraan.
Aksi gotong royong tersebut dipusatkan di ruas jalan utama Jembatan Tulung Mili. Lokasi ini merupakan salah satu akses penting bagi masyarakat setempat karena menjadi pintu masuk menuju kawasan Tulung Mili sekaligus jalur penghubung menuju Kelurahan Sumber Arum.
Ruas jalan tersebut memiliki peranan penting dalam menunjang mobilitas masyarakat. Setiap hari jalan digunakan warga untuk berbagai aktivitas, baik menuju tempat kerja, sekolah, berdagang maupun keperluan lainnya. Karena itu, kerusakan jalan dinilai cukup mengganggu aktivitas dan kenyamanan masyarakat yang melintas.
Warga menyebut kondisi jalan di sekitar jembatan sudah mengalami kerusakan cukup parah. Sejumlah bagian jalan mengalami kerusakan sehingga pengguna kendaraan harus lebih berhati-hati saat melintas. Kondisi tersebut juga dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor.
Keluhan mengenai kondisi jalan tersebut juga telah dirasakan masyarakat dalam waktu yang cukup lama. Warga berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh. Namun, karena penanganan yang dinilai belum kunjung terealisasi, masyarakat akhirnya memilih mengambil inisiatif dengan melakukan perbaikan secara mandiri.
Ketua RT setempat, Wakiman, mengatakan kegiatan gotong royong yang dilakukan warga merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan. Menurutnya, warga sebenarnya berharap pemerintah dapat melakukan pembangunan dan perbaikan jalan tersebut. Namun, karena kondisi jalan semakin mengkhawatirkan, warga memilih untuk tidak hanya menunggu.
“Pemerintah sudah lama tidak menyentuh pembangunan di lingkungan Tulung Mili. Karena itu masyarakat berinisiatif mengumpulkan sumbangan untuk perbaikan jalan secara mandiri,” ujar Wakiman.
Wakiman menjelaskan, dana yang digunakan dalam kegiatan perbaikan tersebut berasal dari swadaya masyarakat. Warga mengumpulkan sumbangan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing. Dana yang terkumpul kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan material dan perlengkapan yang diperlukan dalam proses perbaikan jalan.
“Sumber dana yang kami peroleh dari swadaya masyarakat yang kami kumpulkan sedikit demi sedikit,” katanya.
Menurut Wakiman, keterlibatan warga dalam kegiatan tersebut menunjukkan besarnya kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan. Selain memberikan sumbangan, warga juga turun langsung ke lokasi untuk melakukan pekerjaan fisik. Mereka saling berbagi tugas agar proses perbaikan dapat berjalan sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia.
Semangat gotong royong tersebut menjadi salah satu modal masyarakat dalam menghadapi persoalan infrastruktur di lingkungan mereka. Warga secara bersama-sama berusaha memperbaiki fasilitas yang digunakan untuk kepentingan umum, meskipun dengan kemampuan yang terbatas.
Namun demikian, warga menyadari bahwa perbaikan melalui dana swadaya hanya dapat menjadi solusi sementara. Kerusakan jalan yang cukup parah membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh dan permanen. Karena itu, masyarakat tetap berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Utara dapat mengambil langkah lanjutan.
Warga meminta pemerintah turun langsung melihat kondisi jalan di Jembatan Tulung Mili. Mereka berharap kondisi yang selama ini dirasakan masyarakat dapat menjadi perhatian dalam program pembangunan infrastruktur daerah.
“Harapan kami setelah ini pemerintah dapat melanjutkan pembangunan, karena sudah lama lingkungan kami tidak tersentuh pembangunan,” ujar Wakiman.
Ia menegaskan, masyarakat tidak bermaksud mengabaikan peran pemerintah. Sebaliknya, aksi swadaya dilakukan karena warga merasa perlu mengambil tindakan agar kerusakan jalan tidak semakin parah dan membahayakan pengguna jalan.
Menurutnya, masyarakat selama ini juga telah menjalankan kewajibannya sebagai warga negara, termasuk membayar pajak setiap tahun. Karena itu, warga berharap adanya pembangunan yang dapat dirasakan secara nyata, terutama dalam hal perbaikan infrastruktur dasar.
“Padahal kami sudah membayar pajak tiap tahun tapi belum ada pembangunan nyata,” tegas Wakiman.
Kondisi jalan yang rusak juga menjadi perhatian karena ruas tersebut merupakan akses utama menuju Tulung Mili. Selain digunakan oleh masyarakat setempat, jalan tersebut juga menjadi jalur penghubung menuju Kelurahan Sumber Arum. Dengan posisi yang cukup penting bagi mobilitas warga, kerusakan jalan dinilai tidak hanya berdampak pada masyarakat Tulung Mili, tetapi juga pengguna jalan dari wilayah sekitar.
Warga menilai jalan yang baik merupakan salah satu kebutuhan dasar dalam mendukung aktivitas masyarakat. Infrastruktur jalan yang layak dapat memperlancar mobilitas, sementara jalan yang rusak berpotensi memperlambat perjalanan dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Terlebih bagi pengendara sepeda motor, kondisi jalan yang rusak dapat menjadi persoalan serius. Pengendara harus mengurangi kecepatan dan lebih berhati-hati ketika melewati bagian jalan yang mengalami kerusakan. Pada kondisi tertentu, pengendara juga harus memilih jalur yang dianggap lebih aman untuk menghindari bagian jalan yang rusak.
Warga mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama. Keluhan mengenai jalan rusak juga muncul karena masyarakat harus menggunakan akses tersebut dalam aktivitas sehari-hari. Kondisi inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan warga sepakat melakukan perbaikan secara gotong royong.
Dalam kegiatan tersebut, warga terlihat bekerja bersama tanpa membedakan peran. Ada yang membantu menyiapkan material, ada yang mengerjakan bagian jalan yang akan diperbaiki, sementara warga lainnya membantu mengatur pekerjaan di sekitar lokasi.
Semangat kebersamaan itu menjadi gambaran bahwa masyarakat masih mempertahankan budaya gotong royong dalam menyelesaikan persoalan lingkungan. Di tengah keterbatasan kemampuan secara individu, warga menggabungkan tenaga dan sumber daya agar pekerjaan dapat dilakukan secara bersama-sama.
Meski demikian, warga berharap semangat gotong royong tersebut tidak kemudian membuat pemerintah mengabaikan kebutuhan pembangunan di wilayah mereka. Menurut warga, perbaikan infrastruktur tetap menjadi tanggung jawab pemerintah sesuai kewenangan dan program pembangunan daerah.
Perbaikan yang dilakukan warga diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi kerusakan jalan sekaligus menjadi perhatian bagi pemerintah. Warga ingin pemerintah melihat langsung kondisi yang ada sehingga dapat menentukan bentuk penanganan yang lebih tepat.
Masyarakat juga berharap tidak hanya bagian jalan yang rusak di sekitar jembatan yang diperbaiki. Mereka menginginkan adanya penanganan secara menyeluruh terhadap ruas jalan yang menjadi akses utama masyarakat, sehingga kondisi jalan dapat bertahan lebih lama dan tidak kembali mengalami kerusakan dalam waktu singkat.
Selain faktor kenyamanan, warga menilai perbaikan jalan juga berkaitan dengan keselamatan. Jalan yang baik akan memberikan rasa aman bagi pengendara dan masyarakat yang melintas. Sebaliknya, jalan dengan kondisi rusak dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi kecelakaan.
Warga menyebut tidak jarang terjadi kecelakaan di titik tersebut. Meski demikian, mereka berharap kondisi tersebut tidak terus berulang. Salah satu langkah yang dianggap penting adalah melakukan perbaikan jalan secara permanen agar titik yang selama ini dikeluhkan dapat kembali layak digunakan.
Karena itu, warga berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Utara segera merespons aspirasi masyarakat. Mereka meminta agar pemerintah melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi jalan dan menyusun langkah pembangunan sesuai kebutuhan di lapangan.
Warga juga berharap hasil gotong royong yang dilakukan pada Kamis tersebut dapat menjadi bentuk penyampaian aspirasi secara nyata. Masyarakat ingin menunjukkan bahwa mereka tidak tinggal diam ketika menghadapi persoalan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan dukungan pemerintah untuk menyelesaikannya secara permanen.
“Harapan kami setelah ini pemerintah dapat melanjutkan pembangunan,” kata Wakiman.
Ia menambahkan bahwa masyarakat pada dasarnya siap mendukung program pembangunan pemerintah. Warga juga berharap komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah dapat terus terjalin sehingga berbagai persoalan di lingkungan dapat disampaikan dan ditangani dengan baik.
Bagi masyarakat Tulung Mili, akses jalan yang layak bukan sekadar persoalan pembangunan fisik. Jalan tersebut berkaitan langsung dengan aktivitas dan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Ketika akses utama mengalami kerusakan, maka mobilitas warga juga ikut terdampak.
Karena itu, perbaikan yang dilakukan secara swadaya diharapkan tidak menjadi akhir dari persoalan. Warga menginginkan adanya tindak lanjut dari pemerintah agar kerusakan jalan dapat ditangani secara menyeluruh.
Di sisi lain, kegiatan gotong royong tersebut menunjukkan adanya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Warga memilih mengumpulkan dana secara bersama-sama dan menggunakan tenaga mereka sendiri demi memperbaiki fasilitas yang digunakan bersama.
Semangat tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap pembangunan di wilayah tempat tinggalnya. Namun, masyarakat tetap berharap pemerintah hadir dengan program pembangunan yang lebih terencana dan berkelanjutan.
Warga Tulung Mili berharap setelah adanya aksi gotong royong ini, pemerintah segera turun tangan dan melanjutkan perbaikan jalan di Jembatan Tulung Mili. Mereka ingin akses utama menuju Tulung Mili dan jalur penghubung menuju Kelurahan Sumber Arum dapat kembali dalam kondisi yang aman, nyaman dan layak digunakan.
Hingga kini, masyarakat berharap aspirasi tersebut mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Lampung Utara. Warga menilai perbaikan infrastruktur jalan sangat penting untuk mendukung aktivitas masyarakat sekaligus mengurangi risiko kecelakaan akibat kondisi jalan yang rusak.
Aksi warga pada Kamis (10/9/2026) menjadi gambaran bahwa keterbatasan pembangunan tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk menjaga lingkungan. Dengan dana yang dikumpulkan secara swadaya dan tenaga yang dikerahkan bersama-sama, warga berupaya memperbaiki kondisi jalan yang selama ini menjadi keluhan.
Namun, harapan terbesar warga tetap sama, yakni adanya perhatian dan tindakan nyata dari pemerintah. Masyarakat ingin perbaikan yang dilakukan secara mandiri dapat dilanjutkan dengan pembangunan permanen sehingga persoalan jalan rusak di Jembatan Tulung Mili tidak kembali menjadi keluhan masyarakat di kemudian hari.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Utara segera turun langsung ke lokasi, menindaklanjuti kondisi jalan dan merampungkan pembangunan infrastruktur di Tulung Mili demi keselamatan serta kelancaran aktivitas masyarakat. (*)
# Pewarta Pariyo Saputra #

0Komentar