TSC7GSdiGpY5Tpz5TpY7GSrpGA==
Light Dark
Kuliah Sambil Jualan Sering Dihina, Perjuangan Muhammad Haikal Berbuah Bantuan dan Beasiswa

Kuliah Sambil Jualan Sering Dihina, Perjuangan Muhammad Haikal Berbuah Bantuan dan Beasiswa

Daftar Isi
×

MEDAN, (SUMATERANEWSTV.COM) – Perjuangan Muhammad Haikal, seorang mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), menjadi kisah yang menggambarkan keteguhan hati dalam menghadapi keterbatasan. Di tengah aktivitasnya sebagai mahasiswa, Haikal memilih berjualan mochi untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menunjang perjalanan pendidikannya.

Dengan modal awal yang hanya sekitar Rp50 ribu, Haikal merintis usaha kecil tersebut dengan membuat mochi secara mandiri. Hasil buatannya kemudian dijual di sekitar lingkungan kampus. Aktivitas itu dilakukan di sela-sela kesibukan kuliah, sehingga Haikal harus pandai membagi waktu antara belajar, berjualan, dan menjalankan berbagai kewajiban sebagai mahasiswa.

Bagi Haikal, berjualan bukan sekadar aktivitas untuk mendapatkan penghasilan. Di balik setiap mochi yang ia buat dan tawarkan kepada pembeli, terdapat harapan untuk dapat bertahan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus membantu keluarga. Salah satu motivasi terbesar yang mendorongnya terus bekerja adalah keinginan melihat senyum ibunya di rumah.

Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Haikal mengaku kerap menghadapi cibiran dan hinaan karena memilih berjualan di tengah aktivitas perkuliahan. Tidak semua orang memahami alasan di balik perjuangannya. Namun, ia memilih untuk tidak membalas perkataan tersebut dengan kemarahan.

Haikal justru menjadikan berbagai cibiran sebagai dorongan untuk terus bekerja. Ia memilih membuktikan kesungguhannya melalui tindakan dan hasil dari kerja kerasnya. Setiap rupiah yang diperoleh dari berjualan menjadi bagian dari perjuangannya dalam mempertahankan pendidikan dan membantu keluarga.

Hari-harinya di lingkungan kampus pun tidak hanya diisi dengan aktivitas perkuliahan. Di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa, Haikal harus memikirkan produksi, bahan baku, hingga penjualan mochi. Semua dilakukan dengan kemampuan yang dimilikinya.

Perjuangan tersebut kemudian mendapatkan perhatian ketika Haikal menyampaikan persoalan yang dihadapinya dalam menjalankan usaha. Salah satu kendala yang dirasakan adalah kesulitan memperoleh tepung ketan, yang merupakan bahan utama dalam pembuatan mochi.

Keluhan mengenai persoalan bahan baku tersebut disampaikan Haikal di hadapan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Ia menyampaikan kondisi yang dihadapinya secara langsung berdasarkan pengalaman sebagai mahasiswa sekaligus pelaku usaha kecil.

Momentum tersebut kemudian membuka jalan bagi Haikal untuk mendapatkan perhatian dan dukungan dari sejumlah pihak. Kisah perjuangannya sebagai mahasiswa yang berusaha mandiri melalui usaha kecil mendapat respons positif.

Dukungan yang datang tidak hanya berupa bantuan untuk mengembangkan usaha, tetapi juga menyentuh aspek keluarga dan pendidikan. Haikal mendapatkan bantuan modal usaha sebesar Rp5 juta yang diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan usaha mochinya.

Tambahan modal tersebut menjadi peluang bagi Haikal untuk meningkatkan usahanya. Modal dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, meningkatkan produksi, maupun memperluas pemasaran agar usaha yang dirintisnya dapat berkembang secara bertahap.

Tidak hanya Haikal yang mendapatkan perhatian. Ibundanya juga memperoleh bantuan sebesar Rp5 juta. Bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian sekaligus penghormatan terhadap sosok ibu yang selama ini menjadi salah satu sumber kekuatan bagi Haikal dalam menjalani kehidupan dan pendidikan.

Bagi seorang anak yang sedang berjuang menempuh pendidikan dalam kondisi terbatas, dukungan kepada orang tua memiliki makna tersendiri. Haikal selama ini membawa harapan untuk dapat memberikan kebahagiaan kepada ibunya. Karena itu, bantuan yang diterima sang ibu menjadi salah satu momen yang membuat perjuangannya terasa semakin berarti.

Dukungan berikutnya datang dari sektor pendidikan. Haikal mendapatkan beasiswa penuh dari PTPN IV PalmCo hingga menyelesaikan pendidikan. Beasiswa tersebut menjadi kabar penting bagi Haikal karena pendidikan merupakan salah satu hal yang terus diperjuangkannya di tengah aktivitas berjualan.

Dengan adanya dukungan pendidikan tersebut, Haikal memiliki kesempatan untuk melanjutkan perkuliahan hingga lulus. Di sisi lain, usaha yang selama ini dirintisnya juga memiliki peluang untuk terus dikembangkan dengan bantuan modal yang diterima.

Momen ketika bantuan tersebut diterima menjadi pengalaman emosional bagi Haikal. Air mata yang mengalir menggambarkan rasa haru setelah melalui berbagai proses dan tantangan. Perasaan tersebut tidak terlepas dari perjalanan panjang yang telah dilaluinya, termasuk ketika harus menghadapi cibiran dan hinaan dari orang-orang yang meremehkan pilihannya untuk berjualan.

Namun, Haikal menunjukkan bahwa hinaan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti. Ia memilih tetap berjalan selama pekerjaan yang dilakukan berada di jalan yang halal. Baginya, bekerja keras demi pendidikan dan keluarga merupakan sesuatu yang patut diperjuangkan.

Pesan tersebut kemudian ia sampaikan kepada orang-orang yang mungkin sedang menghadapi kondisi serupa. Haikal mengingatkan agar seseorang tidak mudah mundur hanya karena mendapatkan cibiran dari lingkungan sekitar.

“Kamu berjuang, jangan mundur. Dihina pun jangan pernah mundur,” pesan Haikal.

Pesan tersebut menjadi gambaran dari prinsip yang ia pegang selama menjalani perjuangan sebagai mahasiswa sekaligus pedagang. Ia memilih untuk membiarkan kerja keras menjadi jawaban daripada menghabiskan energi untuk membalas perkataan orang lain.

Kisah Haikal juga memperlihatkan bahwa aktivitas berjualan tidak harus menjadi penghalang bagi seorang mahasiswa untuk menempuh pendidikan. Dengan kemampuan mengatur waktu dan kemauan untuk bekerja, keduanya dapat dijalankan secara bersamaan.

Lebih dari sekadar kisah tentang berjualan mochi, perjalanan Haikal merupakan cerita tentang kemandirian. Dari modal awal Rp50 ribu, ia mencoba membangun usaha sedikit demi sedikit. Setiap keuntungan yang diperoleh menjadi bagian dari proses untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan pendidikan.

Dukungan yang kemudian diterima menjadi titik penting dalam perjalanan tersebut. Bantuan modal memberikan kesempatan untuk mengembangkan usaha, bantuan kepada ibu menjadi bentuk perhatian terhadap keluarga, sementara beasiswa memberikan jaminan dukungan pendidikan hingga lulus.

Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan cara halal tidak perlu dipandang rendah. Seorang mahasiswa yang memilih berjualan untuk membantu kehidupannya justru menunjukkan adanya kemauan untuk mandiri dan bertanggung jawab terhadap masa depannya.

Perjuangan Haikal belum berhenti. Bantuan yang diterima bukan menjadi akhir dari perjalanan, melainkan kesempatan baru untuk terus belajar, mengembangkan usaha, dan menyelesaikan pendidikan. Ia masih memiliki perjalanan panjang untuk mewujudkan cita-citanya.

Di tengah berbagai tantangan, Haikal memilih untuk terus melangkah. Ia percaya bahwa selama seseorang menjalani usaha dengan jujur, sabar, dan tidak meninggalkan jalan yang halal, setiap kesulitan dapat dihadapi secara bertahap.

Kisah Muhammad Haikal menjadi cerita inspiratif tentang seorang mahasiswa yang tidak menyerah pada keadaan. Dari lorong kampus dan tumpukan mochi yang dibuat dengan tangannya sendiri, ia menunjukkan bahwa kerja keras dapat menjadi jalan untuk membuka kesempatan baru.

Perjalanan tersebut juga memperlihatkan pentingnya dukungan terhadap anak muda yang sedang berjuang memperoleh pendidikan sekaligus membangun kemandirian ekonomi. Dengan kesempatan dan dukungan yang tepat, perjuangan kecil yang dimulai dari modal Rp50 ribu dapat berkembang menjadi langkah baru menuju masa depan.

Pada akhirnya, pesan Haikal sederhana namun kuat: jangan berhenti hanya karena diremehkan. Selama jalan yang ditempuh halal dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, perjuangan layak untuk terus dilanjutkan.

#SemangatBerjuang #MahasiswaBerprestasi #UsahaHalal #KisahInspiratif #JanganMenyerah #JanjiTuhanTakIngkar


# Pewarta Pariyo Saputra #

0Komentar