TSC7GSdiGpY5Tpz5TpY7GSrpGA==
Light Dark
Sri Sultan Hamengku Buwono X Tegaskan Sragen Merupakan “Saudara Tua” Yogyakarta

Sri Sultan Hamengku Buwono X Tegaskan Sragen Merupakan “Saudara Tua” Yogyakarta

Daftar Isi
×

SRAGEN, (Sumateranewstv.com) – Hubungan historis antara Kabupaten Sragen dan Daerah Istimewa Yogyakarta kembali ditegaskan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam pidatonya pada Malam Puncak Muhibah Budaya. Dalam kesempatan tersebut, Sri Sultan secara resmi menyebut Sragen sebagai “saudara tua” Yogyakarta karena memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan masyarakat dan para tamu undangan yang hadir dalam rangkaian kegiatan budaya yang digelar untuk mempererat hubungan historis dan kebudayaan antara wilayah Yogyakarta dan Kabupaten Sragen. Menurut Sri Sultan, keterikatan kedua daerah tidak hanya bersifat administratif atau geografis, tetapi juga memiliki akar sejarah yang sangat mendalam.

Dalam pidatonya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menguraikan kembali peristiwa bersejarah yang terjadi pada 27 Mei 1746 di Pendopo Pandak, yang berada di wilayah Krikilan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Di tempat itulah Pangeran Mangkubumi, yang kemudian dikenal sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I, mendirikan pemerintahan perlawanan sebagai bentuk perjuangan melawan kekuasaan kolonial dan konflik internal Kerajaan Mataram.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Nusantara. Dari tanah Sukowati inilah, perjuangan besar Pangeran Mangkubumi dimulai hingga akhirnya melahirkan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang berdiri secara resmi setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755.

“Sragen bukan sekadar tempat persinggahan dalam perjalanan sejarah Mataram. Kabupaten ini merupakan bagian penting yang menjadi penopang lahirnya Yogyakarta. Karena itulah Sragen layak disebut sebagai saudara tua Yogyakarta,” demikian makna yang disampaikan Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pidatonya.

Sejarah panjang tersebut hingga kini masih terus dikenang oleh masyarakat Sragen. Bahkan, tanggal 27 Mei yang menjadi momentum berdirinya pemerintahan perlawanan Pangeran Mangkubumi di Pendopo Pandak, kini diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Sragen.

Peringatan tersebut tidak hanya menjadi simbol berdirinya pemerintahan daerah, tetapi juga sebagai pengingat akan perjuangan para leluhur dalam mempertahankan kedaulatan dan membangun peradaban bangsa. Bagi masyarakat Sragen, sejarah itu menjadi bagian dari identitas yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.

Malam Puncak Muhibah Budaya yang menjadi ajang penyampaian pesan sejarah tersebut berlangsung meriah. Berbagai pertunjukan seni tradisional, pameran budaya, serta kegiatan edukatif turut memeriahkan acara yang dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, budayawan, akademisi, hingga generasi muda.

Kegiatan Muhibah Budaya tidak hanya bertujuan memperkenalkan kekayaan budaya lokal, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan antara masyarakat Sragen dan Yogyakarta. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak untuk lebih memahami nilai-nilai sejarah yang menjadi fondasi terbentuknya hubungan kedua daerah.

Para sejarawan menilai bahwa peran Sragen dalam sejarah Mataram memang sangat strategis. Letaknya yang berada di wilayah Sukowati menjadikan daerah tersebut sebagai pusat pergerakan penting dalam perjuangan Pangeran Mangkubumi. Dari wilayah inilah strategi perjuangan disusun dan semangat perlawanan terhadap penjajahan dikobarkan.

Pengakuan Sri Sultan Hamengku Buwono X terhadap Sragen sebagai saudara tua Yogyakarta pun mendapat sambutan positif dari masyarakat. Banyak pihak berharap hubungan sejarah yang telah terjalin selama ratusan tahun itu dapat terus dipelihara melalui kerja sama di bidang budaya, pendidikan, dan pariwisata.

Selain memperkuat hubungan antardaerah, pengenalan sejarah seperti ini juga dinilai penting dalam membangun karakter generasi muda. Dengan memahami perjalanan para pendahulu, diharapkan generasi penerus dapat meneladani semangat perjuangan, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air.

Keberadaan Pendopo Pandak di Krikilan, Masaran, kini menjadi salah satu situs sejarah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Sragen maupun Yogyakarta. Situs tersebut menjadi saksi bisu lahirnya perjuangan yang kemudian mengubah arah sejarah Nusantara.

Melalui momentum Muhibah Budaya, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga warisan sejarah dan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Menurutnya, sejarah bukan hanya cerita masa lalu, melainkan sumber inspirasi dalam membangun masa depan bangsa.

Dengan pengakuan resmi bahwa Sragen merupakan saudara tua Yogyakarta, hubungan kedua daerah diharapkan semakin erat dan mampu menjadi kekuatan dalam melestarikan nilai-nilai budaya, sejarah, serta semangat kebangsaan bagi generasi mendatang. (*)

Pewarta: Pariyo Saputra 

Redaksi Sumateranewstv 

0Komentar