Polri Kerahkan Anjing Pelacak dalam Pencarian Korban Longsor Cilacap

Jakarta, (Sumateranewstv. Com) — Polri memperkuat upaya pencarian korban tanah longsor di Desa Cipendeuy, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, dengan menurunkan ratusan personel serta mengerahkan tim anjing pelacak sebagai bagian dari operasi pencarian dan pertolongan atau Search and Rescue (SAR) pada hari kedua pascabencana.

Operasi pencarian ini menjadi salah satu respons terbesar Polri di wilayah Jawa Tengah sepanjang tahun 2025, khususnya karena skala kerusakan dan jumlah korban yang masih dinyatakan hilang. Longsor yang terjadi pada Kamis malam, 13 November 2025, sekitar pukul 19.30 WIB, telah menimbun setidaknya 16 rumah penduduk di dua kawasan permukiman paling terdampak, yakni Dusun Tarukahan dan Dusun Cibuyut. Sejak peristiwa tragis itu, tim gabungan dari berbagai instansi terus berupaya mengevakuasi warga yang tertimbun material longsor berupa tanah, batu, pecahan bangunan, hingga potongan pohon yang terbawa arus tanah dari lereng perbukitan.

Untuk mempercepat proses pencarian, Polri mengerahkan sebanyak 205 personel. Jumlah ini merupakan gabungan personel dari berbagai satuan Polri di wilayah Cilacap dan sekitarnya. Kapolres Cilacap, Kombes Pol Budi Adhy Buono, dalam keterangannya kepada wartawan pada Sabtu (15/11/2025), menyatakan bahwa pengerahan personel dalam jumlah besar sangat diperlukan mengingat karakteristik medan yang begitu sulit.

“Personel Polri sebanyak 205 personel diturunkan untuk membantu proses pencarian korban di hari ke-2 dengan melibatkan tim anjing pelacak atau K9 gabungan,” ujar Kapolres.

Selain itu, Polri juga mengerahkan total 10 anjing pelacak K9 yang berasal dari Ditsamapta Polda Jawa Tengah, Polresta Cilacap, Polresta Banyumas, Polres Temanggung, serta Polres Tegal. Kehadiran anjing pelacak ini memiliki fungsi vital dalam proses SAR, terutama untuk mendeteksi bau tubuh manusia yang tertimbun material tanah dan reruntuhan. Dalam kasus bencana longsor berskala besar seperti yang terjadi di Cilacap, anjing pelacak dapat mempercepat identifikasi titik-titik yang berpotensi terdapat korban, sehingga petugas dapat memprioritaskan area tersebut untuk dilakukan penggalian manual atau menggunakan alat berat apabila memungkinkan.

Medan Sulit dan Kondisi Cuaca Menjadi Tantangan Utama

Dalam operasi hari kedua ini, sejumlah tantangan besar masih dihadapi oleh tim SAR. Salah satunya adalah kondisi medan yang terjal dan labil. Lokasi longsor berada di kawasan perbukitan dengan kontur tanah yang masih rawan bergerak. Hujan intensitas sedang hingga tinggi yang masih sering turun di Majenang semakin memperburuk kondisi tersebut. Tim harus bekerja ekstra hati-hati untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang dapat mengancam keselamatan petugas maupun relawan.

Kombinasi antara tanah yang masih saturasi air, pepohonan yang tumbang, serta puing-puing rumah yang tertimbun dalam kedalaman yang tidak bisa dipastikan membuat proses pencarian tidak mungkin dilakukan sepenuhnya menggunakan alat berat. Hal ini membuat metode pencarian manual menjadi pilihan utama pada sebagian besar titik. Di sinilah kehadiran anjing pelacak menjadi sangat penting, karena K9 mampu melakukan pelacakan bau hingga kedalaman tertentu dan mengarahkan tim ke titik-titik yang memiliki probabilitas tinggi keberadaan korban.

Hingga Sabtu siang, tim SAR gabungan masih mencari 20 warga yang belum ditemukan. Mereka terdiri dari enam warga Dusun Tarukahan dan 14 warga Dusun Cibuyut. Sementara itu, tiga warga telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia sejak hari pertama pencarian. Identitas para korban yang ditemukan sebelumnya telah diserahkan ke pihak keluarga untuk proses pemakaman.

Proses Pencarian Melibatkan Berbagai Unsur SAR

Operasi pencarian korban longsor di Desa Cipendeuy tidak hanya melibatkan Polri, tetapi juga BPBD, Basarnas, TNI, relawan kebencanaan, serta masyarakat setempat. Sinergi semua elemen ini menjadi faktor penting yang membuat upaya pencarian dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi dengan baik. Para relawan dari berbagai komunitas kebencanaan di Jawa Tengah turut membantu proses evakuasi material longsor menggunakan peralatan manual seperti cangkul, sekop, ember, hingga mesin pemotong kayu.

Selain evakuasi, tim kesehatan dari Polri dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap juga disiagakan untuk memberikan pelayanan medis dasar bagi relawan atau petugas yang mengalami cedera ringan saat proses pencarian. Tim kesehatan tersebut turut memberikan pertolongan pertama bagi warga yang berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup, meskipun hingga saat ini sebagian besar korban yang ditemukan berada dalam kondisi meninggal dunia akibat tertimbun material longsor terlalu lama.

Pihak kepolisian juga melakukan pengamanan area lokasi bencana untuk mencegah kerumunan warga yang dapat menghambat proses SAR. Pengaturan jalur evakuasi, penempatan garis polisi, dan penjagaan akses utama ke lokasi longsor menjadi bagian dari protokol standar yang diterapkan di lapangan.

Kesaksian Warga dan Kondisi Psikologis Penyintas

Peristiwa longsor yang terjadi pada malam hari itu menyisakan trauma mendalam bagi warga sekitar. Banyak penyintas yang tidak menyangka bahwa tanah di sekitar tempat tinggal mereka akan bergerak sedemikian cepat hanya dalam hitungan detik. Beberapa warga menceritakan bahwa sebelum longsor terjadi, hujan deras mengguyur kawasan tersebut hampir sepanjang hari. Tidak sedikit pula yang mendengar suara gemuruh keras sebelum material tanah meluncur dari atas bukit dan menghantam rumah-rumah mereka.

Beberapa keluarga yang selamat mengaku masih menunggu informasi terkait keberadaan anggota keluarga mereka yang belum ditemukan. Rasa cemas, panik, dan kelelahan emosional sangat terlihat di area posko pengungsian. Para penyintas dibantu oleh tenaga relawan untuk mendapatkan makanan, minuman, pakaian, serta tempat istirahat sementara.

Pemerintah Kabupaten Cilacap telah menyiapkan beberapa titik posko bantuan yang menyediakan kebutuhan dasar, serta menyediakan dukungan psikososial bagi para korban yang mengalami gangguan mental akibat trauma bencana. Petugas dari dinas sosial dan psikolog relawan bekerja secara bergiliran memberikan pendampingan emosional, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Upaya Pencegahan Longsor dan Evaluasi Permukiman Rawat Bencana

Selain fokus pada pencarian korban, pemerintah daerah bersama aparat terkait mulai melakukan evaluasi terhadap kondisi wilayah yang rawan longsor, termasuk Desa Cipendeuy. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Majenang memang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan curah hujan tinggi dan kontur tanah yang cukup labil. Kondisi geografis ini membuat daerah tersebut masuk dalam peta kawasan rawan longsor tingkat menengah hingga tinggi.

Untuk mencegah terjadinya bencana serupa di masa depan, pemerintah daerah berencana melakukan langkah-langkah mitigasi seperti penataan ulang permukiman, pembuatan sistem drainase yang lebih memadai, serta penanaman kembali vegetasi untuk menjaga kestabilan tanah. Evaluasi terhadap zona merah rawan bencana juga menjadi prioritas, termasuk kemungkinan relokasi warga yang tinggal di lereng bukit atau daerah yang sering mengalami pergerakan tanah.

K9 Berperan Penting dalam Operasi SAR Longsor

Dalam operasi pencarian korban longsor, peran anjing pelacak atau K9 sangatlah vital. Anjing-anjing ini telah dilatih secara khusus untuk mendeteksi aroma tubuh manusia di berbagai kondisi medan, termasuk area dengan tumpukan material, puing, lumpur, dan tanah basah. Dalam konteks bencana longsor, penciuman anjing K9 dapat membantu mengidentifikasi titik-titik yang kemungkinan besar terdapat korban, sehingga tim dapat fokus menggali area tersebut.

Pelatihan anjing K9 dilakukan dengan metode khusus sehingga kemampuan deteksinya tetap optimal meskipun berada dalam kondisi ekstrim. Dalam operasi di Cilacap, anjing pelacak bekerja bergiliran dengan handler mereka untuk memastikan stamina tetap terjaga. Faktor kelelahan sangat berpengaruh terhadap akurasi penciuman anjing, sehingga jadwal kerja mereka diatur secara ketat oleh satuan K9.

Harapan dan Komitmen Polri

Pada akhir keterangannya, Kapolres Cilacap Kombes Budi Adhy Buono menegaskan bahwa Polri akan terus berada di garis terdepan dalam upaya pencarian korban hingga seluruh warga yang masih hilang ditemukan. Menurutnya, upaya ini bukan hanya perintah institusi, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat yang terdampak bencana.

“Kami akan terus bekerja semaksimal mungkin. Pencarian tidak akan dihentikan sebelum seluruh korban ditemukan. Kami juga mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati dan mengikuti arahan petugas, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan longsor,” terang Kapolres.

Polri berkomitmen untuk terus meningkatkan kemampuan personel dalam menghadapi situasi kebencanaan, termasuk penguatan unit K9, pelatihan vertikal rescue, hingga pengoperasian alat berat untuk situasi darurat. Ke depan, sinergi Polri, TNI, Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, dan komunitas relawan akan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan efektivitas penanganan bencana alam di Indonesia.

Tragedi longsor di Desa Cipendeuy membawa duka mendalam bagi warga Cilacap. Namun demikian, kehadiran petugas SAR yang bekerja tanpa lelah, termasuk tim K9, memberikan harapan bagi keluarga korban bahwa setiap upaya telah dilakukan untuk menemukan anggota keluarga mereka yang masih hilang. Operasi ini masih akan dilanjutkan hingga seluruh korban berhasil ditemukan dan proses pemulihan wilayah dapat dimulai.

Sumber: Humas Polri / Polda Lampung 


Editor Redaksi Sumateranewstv. Com